Indonesian Science Communication Lab (IDSCL)

adalah grup inisiasi non-profit untuk pengembangan keilmuan, strategi dan praktik komunikasi sains di Indonesia. Berbasis riset dan pengalaman praktis untuk meningkatkan wacana dan partisipasi publik pada sains, dengan mendorong dialog dan proses deliberatif dalam ruang lingkup kajian public engagement of science (PES) dan Science, Technology and Society (STS).

Keilmuan Komunikasi Sains Itu Sendiri Sedang Bermasalah

Selama lebih dari lima dekade, bidang komunikasi sains telah berkembang dari sekadar praktik amatir menjadi suatu disiplin semi-profesional, dilengkapi dengan teori, metode, dan kanon akademik yang terus berkembang. Jurnal ilmiah tumbuh subur, konferensi rutin digelar, dan keterlibatan publik menjadi bagian dari misi institusi pendidikan tinggi.

Namun, meskipun infrastruktur intelektual telah terbentuk, satu persoalan tetap mengemuka yaitu mengapa masyarakat terus-menerus menolak, mengabaikan, bahkan mempolitisasi nasihat ilmiah, bahkan saat menyangkut krisis eksistensial?

Jawabannya, ironisnya, bukan terletak pada kegagalan menjelaskan sains, tetapi pada kegagalan untuk menginterogasi bagaimana, mengapa, dan untuk siapa sains dikomunikasikan. Komunikasi sains, dalam praktiknya kini, cenderung konservatif secara kelembagaan, sempit secara epistemik, dan naif secara politik. Hasilnya adalah ekosistem di mana kebenaran bersaing melawan logika media, identitas kesukuan, dan algoritma yang mengedepankan emosional dan sensasionalitas.

Literatur terkini menyerukan agar bidang ini menantang dirinya sendiri. Ulasan sistematik dari Druckman dan rekan menawarkan agenda riset dan kebijakan yang melampaui model “defisit”, dimana model ini mengasumsikan bahwa ketidaktahuan publik hanyalah kekosongan yang perlu diisi dengan fakta. Sebaliknya, mereka mendorong kerangka kerja baru yang menekankan kepercayaan publik, ketimpangan struktural, dan ekonomi politik dari informasi. Tinjauan historis oleh Trench dan Bucchi yang ditulis tahun 2015 nampaknya masih relevan untuk mendukung seruan ini.


Tirani Keahlian

Epistemologi komunikasi sains modern dibangun atas bayangan ideal bahwa sains itu apolitis, tunggal, dan dapat mengoreksi dirinya sendiri. Pandangan ini cocok untuk sistem peer review dan proposal hibah, tetapi gagal total di ruang publik, di mana sains berkelindan dengan kekuasaan, identitas, dan sejarah.

Ambil contoh isu perubahan iklim. Meski data ilmiah telah mapan dan urgensinya terus meningkat, kebijakan iklim di banyak negara demokratis masih stagnan. Sains telah sepakat, tetapi politik tidak.

Hal serupa terjadi dalam pandemi COVID-19. Rekomendasi ilmiah diterima, diabaikan, atau dipelintir sesuai garis politik. Di Amerika Serikat, masker dan vaksin menjadi simbol identitas ideologis. Di Brasil dan sejumlah negara Afrika dan Asia, ketidakpercayaan terhadap institusi medis mendorong teori konspirasi dengan konsekuensi mematikan.

Respons institusi sains masih cenderung linier dengan publikasi ditambah, diseminasi diperluas, suara diperkeras. Namun logika ini mengasumsikan bahwa publik adalah entitas netral yang siap menyerap pengetahuan. Padahal, warga menafsirkan sains melalui lensa agama, kelas, ras, dan ideologi. Meneriakkan bahwa mereka keliru hanya akan menambah resistensi.

Slogan “percaya pada sains” (Trust in Science) juga runtuh ketika institusi di balik sains dipersepsikan sebagai elitis, tertutup, atau terkooptasi oleh kepentingan tertentu. Dalam konteks seperti ini, otoritas ilmiah tak lagi dilihat sebagai penengah, tetapi justru sebagai bagian dari konflik politik.

Ekologi Media yang Runtuh

Banyak literatur komunikasi sains masih terjebak pada isu framing tentang bagaimana ilmuwan dapat mengemas pengetahuan agar lebih mudah diterima publik. Namun pendekatan ini gagal melihat penyebab yang lebih mendasar semisal sistem media yang ada tidak dirancang untuk menyampaikan kompleksitas. Media sosial, misalnya, memberi insentif pada emosi, kecepatan, dan konfirmasi bias, sebuah karakteristik yang bertentangan dengan sifat sains yang lambat, penuh ketidakpastian, dan penuh nuansa.

Ini juga mencatat meningkatnya tren “disintermediasi”, di mana ilmuwan berbicara langsung kepada publik melalui blog, Twitter, atau YouTube. Ini sering dianggap sebagai bentuk demokratisasi. Namun akses langsung tidak berarti pemahaman langsung. Tanpa perantara yang kredibel sains berisiko menjadi satu suara lagi dalam keramaian digital yang memekakkan.

Runtuhnya jurnalisme tradisional juga melemahkan fungsi penyaring antara klaim ilmiah dan misinterpretasi publik. Di banyak negara Global Selatan, termasuk Asia Tenggara, jurnalisme sains masih rapuh, kurang didanai, atau dibungkam oleh kepentingan politik. Ruang kosong ini segera diisi oleh misinformasi yang menyebar melalui saluran informal, influencer, atau propaganda negara.

Sehingga solusinya bukan sekadar lebih banyak konten sains, tetapi arsitektur baru untuk kurasi, kontekstualisasi, dan akuntabilitas. Yang dibutuhkan bukan hanya akses terhadap informasi, tetapi struktur makna yang memungkinkan refleksi.

Merombak Arsitektur Komunikasi Sains

Lantas, apa yang perlu dilakukan?

Pertama, kita perlu mengubah unit analisis: dari sikap individu menjadi kondisi struktural. Pertanyaannya bukan sekadar “apakah mereka memahami sains?”, tetapi “mengapa kelompok tertentu tidak mempercayainya?”, dan “bagaimana ketidakpercayaan itu dibentuk oleh ketidaksetaraan sosial, kegagalan institusi, dan trauma sejarah?”.

Kedua, riset dan praktik komunikasi sains harus lebih kontekstual, terutama di negara-negara non-Barat. Di banyak masyarakat pascakolonial, sains sering digunakan sebagai alat dominasi, bukan pembebasan. Sejarah sains teknokratis menyisakan warisan skeptisisme yang tak dapat disapu bersih dengan video edukatif. Komunikasi sains harus belajar mendengar sebelum berbicara.

Ketiga, pelatihan komunikasi bagi ilmuwan harus melampaui keterampilan presentasi. Mereka perlu dibekali dengan teori politik, literasi media, etika, dan sensitivitas budaya. Mereka harus bisa menyampaikan ketidakpastian tanpa takut, menanggapi perbedaan pendapat tanpa defensif, dan melihat komunikasi sebagai dialog, bukan transmisi.

Keempat, insentif institusional harus dirombak. Saat ini, universitas dan lembaga riset masih mengukur keterlibatan publik berdasarkan jumlah tampilan, pengikut, atau viralitas. Padahal, viral belum tentu valid. Video sains yang ditonton jutaan kali tak berarti apa-apa jika hanya memperkuat scientism, bukan cara berpikir ilmiah. Keterlibatan publik harus dinilai juga dari kedalaman interaksi, relevansi sosial, dan dampaknya terhadap kebijakan.

Komunikasi Sains sebagai Ruang Politik dan Moral

Komunikasi sains bukanlah netral. Ia mereproduksi nilai, hierarki, dan pengecualian. Jika sains ingin melayani demokrasi, maka ia juga harus didemokratisasi, bukan hanya dalam bentuknya, tapi juga dalam isinya. Ini berarti membuka ruang bukan hanya untuk hasil sains, tetapi juga pertanyaan, metode, dan logika institusionalnya agar dapat dikritisi publik.

Filsuf sains Jean-Marc Lévy-Leblond pernah menyerukan perlunya kritik terhadap sainsbukan untuk mendiskreditkan, tetapi untuk menghidupkan kembali vitalitas sipilnya. Komunikasi sains yang kritis tidak hanya menjelaskan, tetapi juga merefleksikan. Ia kemudian bertanya: siapa yang menentukan apa yang disebut “sains”? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang diabaikan?

Ambil contoh gerakan keadilan lingkungan di Amerika Utara. Komunitas-komunitas lokal menghasilkan data sendiri untuk menentang narasi resmi tentang polusi dan risiko kesehatan. Ini bukan gerakan anti-sains, tetapi gerakan anti-eksklusi. Tuntutan atas keadilan epistemik dalam sistem yang terlalu sering meminggirkan pengalaman hidup demi angka statistik.

Di Indonesia, inisiatif warga seperti pengawasan kualitas udara di Jakarta dan Bandung menunjukkan potensi transformasional dari komunikasi sains partisipatif. Ketika warga membangun dan menyebarkan data sendiri, mereka bukan sekadar objek edukasi—mereka menjadi subjek politik pengetahuan.

Epilog: Menuju Ekologi Pengetahuan Publik

Di tengah krisis iklim, pandemi, dan Akal Imitasi (AI) yang mengubah otoritas kognitif, taruhan dari komunikasi sains semakin tinggi. Pertanyaannya bukan lagi apakah sains dikomunikasikan, melainkan: siapa yang mengendalikan komunikasi itu, untuk tujuan apa, dan dengan dampak apa?

Komunikasi sains harus menghadapi momen politiknya. Ia harus melepaskan warisan defisit dan defensif, lalu mengadopsi agenda baru: kritis, inklusif, dan berakar pada realitas sosial. Ini berarti mengakui bahwa komunikasi bukan akhir dari proses ilmiah, melainkan bagian dari konstruksinya. Sampai komunikasi sains mampu menjawab tantangan itu, ia hanya akan tetap menjadi wacana yang fasih.


Satu tanggapan untuk “Keilmuan Komunikasi Sains Itu Sendiri Sedang Bermasalah”

  1. […] dari artikel berjudul Keilmuan Komunikasi Sains Itu Sendiri Sedang Bermasalah, yang dimuat di situs Indonesian Science Communication Lab, hal ini sejalan karena mengakarnya tirani […]

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Indonesian Science Communication Lab (IDSCL)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca