Dalam lima dekade terakhir, dunia menyaksikan tumbuhnya sebuah bidang yang dulu dianggap pinggiran yaitu komunikasi sains (science communication). Upaya yang awalnya merupakan inisiasi ilmuwan untuk mempopulerkan apa yang mereka lakukan di Laboratorium, lalu upaya individu menulis esai populer atau berkembang membangun museum sains. Kini komunikasi sains telah menjadi disiplin akademik dengan literatur mapan, jurnal khusus, program pascasarjana, dan jejaring global yang dinamis. Semua kian matang.
Namun apakah kematangan ini berarti komunikasi sains sudah siap menjawab tantangan zaman? ternyata belum sepenuhnya.
Brian Trench dan Massimiano Bucchi, dua tokoh penting dalam studi komunikasi sains, dalam kajian retrospektif mereka menggarisbawahi bahwa meski bidang ini menunjukkan tren positif dalam produktivitas, internasionalisasi, dan institusionalisasi, masih banyak ketimpangan, stagnasi, dan warisan model lama yang membayangi arah perkembangannya.
Masih Setengah Jalan: Dari Defisit Menuju Dialogis
Selama bertahun-tahun, pendekatan utama komunikasi sains adalah model defisit. Dengan pendekatan ini publik dianggap kurang pengetahuan, dan tugas ilmuwan atau komunikator adalah mengisi kekosongan itu. Model ini sudah banyak dikritik sejak tahun 1990-an, digantikan oleh wacana dialog, partisipasi, dan keterlibatan publik (public engagement).
Namun data empiris dari konferensi internasional menunjukkan bahwa dalam praktik, model defisit masih mendominasi. Alih-alih membangun ruang dialog setara antara ilmuwan dan masyarakat, banyak aktivitas komunikasi sains masih bersifat satu arah dan elitis. Ini menunjukkan bahwa meski teori sudah bergeser, budaya dan struktur praktik belum sepenuhnya berubah.
Komunikasi Sains dalam Ekosistem Global
Salah satu capaian penting dalam lima dekade terakhir adalah tumbuhnya komunikasi sains sebagai praktik dan bidang kajian global. Kini bukan hanya AS dan Inggris yang jadi pusat perhatian; kontribusi dari Brasil, Korea, India, Cina, Afrika Selatan, Latin Amerika, dan Australia pun mulai terdengar. Namun globalisasi ini juga menunjukkan kontras antara wilayah.
Negara-negara Eropa, misalnya, cenderung mendorong pendekatan reflektif dan otonom dari pengaruh kebijakan. Sementara di banyak negara Global Selatan, komunikasi sains justru sering dibingkai dalam kerangka proyek-proyek pemerintah: edukasi pertanian di India, museum interaktif di Cina, atau kampanye nutrisi di Afrika.
Di satu sisi, pendekatan ini memungkinkan penyebaran manfaat sains ke masyarakat. Namun di sisi lain, ia berisiko menjadi alat propaganda teknokratis yang mengabaikan konteks sosial, budaya, dan politik tempat sains beroperasi.
Fragmentasi Publik dan Tantangan Mediasi Baru
Di era media digital, lanskap komunikasi sains berubah drastis. Dulu, informasi sains disaring oleh jurnalis sains dan lembaga seperti museum atau lembaga riset. Kini, ilmuwan bisa langsung berbicara kepada publik lewat media sosial, video lab, bahkan dataset terbuka. Tapi ini juga berarti tidak ada lagi “penjaga gerbang” yang mengkurasi kualitas dan konteks informasi.
Munculnya platform seperti TikTok atau YouTube memberi peluang demokratisasi komunikasi sains, namun juga membuka pintu pada banjir informasi yang kadang menyesatkan. Di sinilah tantangan mediasi baru muncul, bagaimana menjembatani otoritas ilmiah dengan dinamika konten viral, bagaimana tetap relevan di tengah algoritma yang tak berpihak pada kompleksitas?
Kita butuh pendekatan yang melampaui “penyuluhan gaya baru”, dan benar-benar mengakui keberagaman publik yang bukan satu entitas homogen, tapi terdiri dari komunitas-komunitas dengan nilai, pengalaman, dan posisi sosial yang berbeda.
Di Mana Teori Komunikasi Sains Berpijak?
Trench dan Bucchi mencatat bahwa salah satu tantangan mendasar bidang ini adalah kurangnya kerangka teori yang kuat dan koheren. Banyak studi komunikasi sains masih deskriptif, berbasis proyek, dan minim refleksi teoretis. Ironisnya, beberapa isu penting seperti relasi antara budaya ilmiah dan publik, pengaruh struktur kekuasaan dalam produksi dan penyebaran pengetahuan, atau dinamika peran ilmuwan di ruang publik, sudah pernah dibahas oleh pemikir terdahulu seperti Ludwik Fleck, J.B.S. Haldane, hingga Dorothy Nelkin.
Sayangnya, bidang ini sering mengalami semacam “amnesia institusional”, gagasan-gagasan lama yang masih relevan sering dilupakan, dan roda teori diputar ulang dari awal.
Untuk maju, komunikasi sains harus lebih serius dalam membangun hubungan dengan tradisi teori lain, dari ilmu humaniora, filsafat sains, hingga studi media kritis. Dengan begitu, komunikasi sains tidak hanya menjadi alat untuk menjelaskan sains, tapi juga untuk mengkritisi bagaimana sains dijelaskan, siapa yang punya kuasa atas narasi, dan untuk kepentingan siapa.
Representasi, Gender, dan Perubahan Generasi
Di balik tren positif, Trench dan Bucchi juga mencatat bahwa representasi perempuan dalam riset komunikasi sains masih belum sebanding dengan keterlibatan mereka dalam praktik. Padahal banyak pionir perempuan yang membentuk bidang ini, seperti Rae Goodell dan Dorothy Nelkin. Ketimpangan ini menandakan perlunya refleksi internal agar komunikasi sains benar-benar inklusif, tidak hanya dalam konten, tapi juga dalam struktur produksi pengetahuannya.
Hal lain yang menarik adalah “penuaan” penulis di bidang ini. Sebagian besar karya penting masih ditulis oleh ilmuwan senior yang aktif sejak tahun 1990-an. Namun kini mulai muncul generasi baru yang membawa isu-isu seperti celebrity scientists, komunikasi krisis, atau keterlibatan publik berbasis media digital. Tantangannya adalah apakah generasi baru ini akan terus mereproduksi pola lama, atau berani membuka medan baru yang lebih kritis, kontekstual, dan berakar pada kebutuhan masyarakat?
Catatan untuk Pengembangan Komunikasi Sains
Komunikasi sains masa depan tidak cukup hanya menjawab “bagaimana kita menjelaskan sains kepada publik”, tetapi juga harus bertanya: “sains seperti apa yang dibutuhkan publik?” dan “bagaimana publik ikut terlibat dalam memformulasikan pertanyaan ilmiah?”
Ini berarti menjauh dari logika simplifikasi yang menyepelekan publik, dan mendekat pada pendekatan dialogis yang sungguh-sungguh, di mana masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai konsumen informasi, tapi sebagai aktor pengetahuan.
Sebagaimana ditegaskan Trench dan Bucchi, masa depan komunikasi sains akan bergantung pada kemampuan bidang ini untuk terus berefleksi, membuka diri pada pendekatan baru, serta bersandar pada keragaman pengalaman global.
Sekalipun refleksi atas perkembangan keilmuan ini mereka tulis pada 2015 dan merefleksikan bagaimana perkembangan komunikasi sains sebagai sebuah ilmu, nyatanya beberapa argumen relevan hingga kini, mereka juga masih mendominasi diskusi ilmiah dan praktis di bidang ini.
Tinggalkan komentar