Oleh: Ilham Akhsanu Ridlo
Konsep “science” tidak bersifat universal, ia merupakan konstruksi budaya yang maknanya berbeda-beda tergantung pada konteks historis, epistemologis, dan linguistik suatu masyarakat.
Di negara-negara berbahasa Inggris, “science” secara sempit merujuk pada ilmu-ilmu alam (natural sciences), sedangkan dalam konteks Jerman, kata “Wissenschaft” mencakup seluruh bidang keilmuan, termasuk humaniora dan ilmu sosial, juga “nauka” di Polandia mencakup pembelajaran yang lebih luas. Dalam bahasa Jepang (kagaku) umumnya diasosiasikan dengan teknologi dan inovasi terapan, sedangkan di banyak negara-negara pascakolonial, istilah lokal yang diasosiasikan dengan “sains” sering mengalami perubahan makna melalui kontak kolonial, di mana istilah asli tergantikan atau didisiplinkan melalui bahasa dan struktur pengetahuan Barat.
Akar kolonial dalam pembentukan konsep “sains” di negara jajahan muncul dari proses epistemik yang disebut sebagai “epistemic colonization”, pengambilalihan sistem pengetahuan lokal oleh sistem pengetahuan kolonial yang mengklaim superioritas universal.
Dalam konteks penjajahan, pengetahuan lokal, kosmologi adat, praktik pengobatan tradisional, atau sistem ekologi berbasis kearifan lokal dianggap sebagai non-scientific atau irrational karena tidak sesuai dengan metode ilmiah Barat. Proses ini bukan hanya eliminatif, tapi juga hierarkis, memasukkan “sains” sebagai satu-satunya cara sah untuk mengetahui dunia (epistemic monism), sembari mendefinisikan pengetahuan lain sebagai “takhyul” atau “tradisi.”
Sebagai contoh, dalam proyek kolonial Inggris di India, lembaga seperti Survey of India atau Royal Botanical Gardens digunakan untuk mengklasifikasi, memetakan, dan mengeksploitasi sumber daya alam sambil membingkai sistem pengetahuan lokal sebagai objek etnografi, bukan sebagai pengetahuan yang setara. Pengetahuan lokal dijadikan sumber informasi untuk memperkuat kontrol kolonial, bukan untuk dialog epistemik.
Pasca-kolonialisme, banyak negara jajahan mewarisi struktur epistemik dan kebijakan pendidikan berbasis model Eropa, termasuk kurikulum sains yang menyingkirkan epistemologi lokal. Hal ini memperkuat dualitas epistemik, sehingga sains dilihat sebagai pengetahuan “modern” yang diasosiasikan dengan kekuasaan dan kemajuan, sementara pengetahuan lokal tetap berada di pinggiran tanpa legitimasi institusional.
Akibatnya, komunikasi sains pun sering mengalami “dislokasi budaya,” karena bahasa, format, dan norma yang digunakan tidak merepresentasikan pengalaman atau cara mengetahui publik lokal. Dengan demikian, pemaknaan “science” tidak bisa dilepaskan dari sejarah kolonial dan politik pengetahuan global yang menjadikan sains Barat sebagai norma tunggal, bukan salah satu dari banyak cara memahami dunia.
Tinggalkan komentar