Indonesian Science Communication Lab (IDSCL)

adalah grup inisiasi non-profit untuk pengembangan keilmuan, strategi dan praktik komunikasi sains di Indonesia. Berbasis riset dan pengalaman praktis untuk meningkatkan wacana dan partisipasi publik pada sains, dengan mendorong dialog dan proses deliberatif dalam ruang lingkup kajian public engagement of science (PES) dan Science, Technology and Society (STS).

Recap: Brownbag #01 CV Naratif

tags: #CVnaratif #narrativeCV
Diperbarui terakhir 4 Januari 2024

Oleh: Dasapta Erwin Irawan dan Ilham Akhsanu Ridlo

Mari bicara tentang CV naratif untuk mempertegas rekam jejak Anda.

CV yang berkisah, bukan yang pamer angka.

Jadi CV versi saya ini menitikberatkan pada cerita tentang konten yang saling terhubung. Antara satu kegiatan dengan kegiatan lainnya, atau satu dokumen dengan dokumen yang lain. Ini jelas berbeda dengan CV konvensional yang hanya memajang karya. Dalam CV seperti itu, kehebatan sebuah karya ditentukan oleh jurnal.

Seperti halnya poster ini, CV Anda tidak akan membosankan. Akan “berisi” bukan hanya “berangka”.

Catatan CV naratif

CV yang mungkin tidak linier tapi bercerita dengan runut.

Tidak seperti CV konvensional yang mungkin hanya memisahkan karya berdasarkan jenisnya, CV naratif justru menyatukan berbagai jenis karya sebagai satu cerita dengan tema yang beragam. Karya-karya lainnya bisa dikemas sebagai tema atau subtema.

CV yang variatif tidak monoton.

Dengan CV naratif, maka CV tidak akan monoton. Anda bisa jadi tidak menggunakan layout atau template tertentu. Semuanya terserah Anda. Selama CV sudah menceritakan rekam jejak Anda, maka itulah CV naratif. Anda bisa menggunakan tata letak (layout) “portrait“, “landscape“, atau bahkan poligon. BEBAS!

CV yang menyenangkan, bukan yang “mengancam/mengintimidasi”.

Hipotesis saya, ketika Anda menggunakan cara naratif dalam memaparkan CV, maka Anda tidak akan mengundang “haters“. Kok bisa? Karena memang Anda tidak sedang pamer. Anda sedang mendongeng, termasuk di dalamnya Anda bercerita tentang kegagalan, kekecewaan, atau pilihan yang keliru sebagai pembelajaran pembaca. Jadi “LESS HATERS, MORE TO LIFE”.

CV yang memberi semangat buat diri sendiri dan orang lain.

Dengan gaya bercerita, maka peluang Anda untuk mempengaruhi orang lain menjadi lebih besar. Pembaca CV Anda bukan hanya dapat menghitung produktivitas, tetapi juga makna produktivitas itu bagi Anda, dan juga buat orang lain. Bukan hanya angka yang Anda tampilkan.

Bagaimana cara membuatnya?

  1. Tentu Anda akan perlu karya. Kalau tidak punya karya apa iya bisa menulis cerita. Urutkan karya berdasarkan bulan dan tahun.
  2. Ekstrak kata kunci, tema, atau subtema dari karya-karya tersebut. Lihat perulangan-perulangan yang pasti/mungkin ada. Perulangan tersebut akan menjadi tema utama. Lalu buat diagram tema utama dan sub-sub temanya (bila ada).
  3. Mulai bercerita dengan menggabungkan konten yang Anda berhasil pelajari di setiap tema atau sub tema. Upayakan ada hasil utama dan hasil pendukung. Tambahkan fragmen cerita kecil yang Anda ingat saat merencanakan risetnya, saat melaksanakan, atau saat melaporkannya.
  4. Jangan lupa untuk menyertakan diagram, foto, atau grafik yang ada di dalam makalah. Pilihan lainnya visualisasi lainnya untuk mempertegas cerita Anda. Gunakan aplikasi untuk menghasilkan visualisasi, misal: Canva, OpenKnowledgeMaps, atau [Vosviewer](https://vosviewer.com. Menyertakan gambar coretan pena Anda sendiri juga tidak dilarang.
  5. Baca ulang dan periksa apakah:
    • Cerita sudah lengkap atau menggambarkan karya-karya utama (terkait tema ya, bukan semata-mata terkait jurnal),
    • Apakah kata kunci/tema/sub temanya sudah benar,
    • Apakah gambar sudah cukup bermakna (tidak berlebihan),
    • Apakah ada bagian yang terlalu meninggikan karya atau terlalu rendah.

Manfaat bagi kampus atau pemberi dana riset.

  1. Mereka dapat menilai Anda secara lebih menyeluruh, bukan hanya melihat jumlah makalah dan di mana makalah itu terbit. Memang pasti mereka mencari angka sebagai “simbol produktivitas dan reputasi Anda”, tapi jelas mereka punya hal lain yang bisa dibaca.
  2. Pada suatu titik, mereka dapat “menjual” cerita dalam CV naratif untuk membangun profil lembaganya.
  3. Kalau mereka menerima Anda atau proposal riset Anda, maka mereka dapat berharap bahwa luaran yang dihasilkan bukan semata-mata yang dijanjikan di dalam proposal.

Penutup

Jadi yang Anda butuhkan adalah CV yang betul-betul menggambarkan diri Anda, bukan sekedar menayangkan judul paper Anda. Buat cerita yang membumi, jangan jadi sombong. Ingat Anda sedang berupaya menilai diri Anda sendiri, bukan sekedar menceritakan pernah menerbitkan artikel di jurnal apa.

Rekaman Diskusi

Resume Diskusi Brownbag #01 IDSCL
CV Naratif adalah sebuah pendekatan inovatif dalam menyusun Curriculum Vitae (CV) yang tidak hanya menekankan pada daftar prestasi atau publikasi ilmiah, tetapi juga mengintegrasikan narasi atau cerita di balik pencapaian tersebut. Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada penceritaan kisah dan konteks di sekitar karya ilmiah, penelitian, dan kontribusi akademik, sehingga lebih mudah dipahami oleh berbagai pihak, termasuk lembaga donor, universitas, lembaga riset, dan masyarakat umum.

CV Naratif memungkinkan peneliti untuk mengkomunikasikan karya mereka secara lebih efektif, dengan menghubungkan titik-titik antara berbagai penelitian dan menampilkan sebuah narasi yang koheren tentang perjalanan dan kontribusi ilmiah mereka. Ini berbeda dari CV tradisional yang cenderung linear dan hanya berisi daftar prestasi. Dengan pendekatan naratif, CV dapat menjadi lebih menarik dan tidak monoton, memungkinkan peneliti untuk menyampaikan cerita keberhasilan, kegagalan, dan pembelajaran yang mereka alami.

Praktik penggunaan CV Naratif ini dapat bermanfaat bagi individu dalam menonjolkan keunikannya dan mempermudah lembaga atau pemberi dana dalam memahami kapasitas dan kontribusi nyata dari seorang peneliti. Selain itu, CV Naratif juga dapat membantu dalam komunikasi sains, membuat karya penelitian lebih mudah diakses dan dimengerti oleh publik luas. Pendekatan ini mendorong peneliti untuk tidak hanya fokus pada metrik seperti indeks sitasi, tetapi juga pada dampak nyata dan relevansi penelitiannya.

Artikel Ilmiah ini akan memudahkan kita untuk memahami CV naratif.
Frédérique Bordignon, Lauranne Chaignon, Daniel Egret, Promoting narrative CVs to improve research evaluation? A review of opinion pieces and experiments, Research Evaluation, Volume 32, Issue 2, April 2023, Pages 313–320, https://doi.org/10.1093/reseval/rvad013


Satu tanggapan untuk “Recap: Brownbag #01 CV Naratif”

Tinggalkan Balasan ke Bibliometrik dan Pemeringkatan Universitas Tidak Dapat Diandalkan untuk Menilai Kinerja Akademisi – ScienceWatchdog.id Batalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Indonesian Science Communication Lab (IDSCL)

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca